Selasa, 24 Mei 2016

Bimbingan Deduksi: Kelainan Mata




Setelah sebelumnya saya menuliskan mengenai deduksi Sir Arthur Conan Doyle atas Edalji dan kesimpulannya yang mengagumkan, (baca: Kasus Nyata Sang Pengarang Sherlock Holmes), maka saya tertarik untuk melihat KELAINAN MATA sebagai petunjuk dalam melakukan deduksi. Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan mengenai hal tersebut.
Terdapat beberapa hal yang mesti kita amati ketika ingin melakukan deduksi terhadap kelainan mata yang terjadi pada seseorang. Yang pertama tentunya aktivitas dan kebiasaan yang terjadi pada subjek (pelaku) yang diamati. Berikut adalah cara untuk mengetahuinya:




1.   Rabun Dekat (Hipermetropi)

Salah seorang guru saya di SMA, memiliki perilaku yang sangat khusus ketika dia mengajar. Apabila dia akan mengabsen siswa, dia akan menyipitkan mata, lalu memundurkan badannya atau memundurkan kertas absennya, atau keduanya. Hal ini terus terjadi berulang-ulang setiap kali dia akan mengabsen. Maka saya menyimpulkan kalau guru saya tersebut memiliki rabun dekat.

Ada beberapa sikap yang menunjukkan apakah seseorang rabun atau tidak. Jika seseorang memicingkan mata saat melihat suatu objek sambil memundurkan badan atau memundurkan objek tersebut hingga pada jarak yang cukup jauh, maka kemungkinan orang tersebut rabun rabun dekat. Amati, apakah subjek yang kita amati melakukan perilaku ini berulang-ulang? Lihat juga apabila terjadi penyimpangan pola.

2.   Rabun Jauh (Miopi)
Apakah sering kita melihat benda yang cukup jauh dari pandangan kita, misalnya huruf pada banner atau pada plang di sisi jalan? Apa yang akan kita lakukan untuk melihat benda tersebut? Ya. Menyipitkan mata dan mendekatkan kepala. Kebalikan dari rabun dekat, orang yang rabun jauh akan mendekatkan objek yang ada di depan matanya (terutama bacaan yang terlalu kecil). Hal ini akan terlihat jelas pada orang yang tidak memakai kacamata.

3.   Mata Tua (Presbiopi)
Presbiopi atau mata tua adalah kelainan pada mata yang menyebabkan seseorang tidak bisa melihat terlalu dekat dan terlalu jauh secara bersamaan (memiliki rabun jauh dan rabun dekat). Hal ini umumnya terjadi pada para lansia. Jika seseorang memiliki kedua ciri dan aktivitas yang terjadi pada 2 kelainan mata sebelumnya (miopi dan hipermetropi), maka orang tersebut dipastikan memiliki presbiopi.

4.   Astigmatisma (Silinder)
Astigmatisma adalah sebuah gejala penyimpangan dalam pembentukan bayangan pada lensa. Orang Indonesia biasa menyebutnya silinder. Dilansir dari doktersehat.com, pada penderita silinder melihat segala hal secara kabur. Hal ini dikarenakan lensa mata pada orang yang memiliki silinder tidak bulat sempurna. Pada beberapa kasus bahkan seseorang tidak dapat melihat garis lurus.

Berdasarkan informasi dari caramengobatisakitmata.blogspot.com, silinder memiliki beberapa gejala. Gejala-gejala tersebut adalah: (1) Orang yang tidak sadar kalau dirinya memiliki silindris mempunyai mata yang cepat lelah saat fokus; (2) penglihatan kabur, buram dan berbayang; (3) silau berlebih ketika berkendara pada malam hari; (4) sakit kepala. Apabila subjek yang anda amati memiliki gejala-gejala ini berdasarkan pengamatan anda, maka ada kemungkinan dia memiliki silinder. Pada beberapa kasus, ada juga penderita silinder yang saat membaca koran/buku memiringkannya dari mata hingga pada sudut yang tidak normal seperti pada Kasus George Edalji.

Mungkin ada beberapa yang mau menambahkan, silahkan tambahkan pada kolom komentar. Apabila komentarnya informatif dan mencerahkan, mungkin akan saya tambahkan pada artikel saya ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar