Jumat, 06 Mei 2016

5 Fokus Saat Melakukan Deduksi ala Sherlock Holmes



Ketika kita melakukan pengamatan untuk menarik informasi terhadap perilaku dan kepribadian manusia, maka ada “batu pijakan” tertentu yang mesti kita perhatikan. Dengan fokus memperhatikan hal-hal ini, maka kita akan mampu melakukan deduksi ala Sherlock Holmes dan membaca orang lain dengan tepat. Jo-Ellan Dmitrius dalam bukunya “Reading People: How to Understand People and Predict Theier Behaviour” menyebutkan beberapa hal yang mesti kita perhatikan ketika kita berusaha membaca informasi dari orang lain. Hal tersebut adalah:

1.   Karakteristik Menonjol
Ketika kita melakukan deduksi dan membaca orang lain, maka hal yang paling pertama yang mesti kita lihat adalah karakteristik atau ciri yang mencolok/menonjol. Hal ini bisa menjadi petunjuk paling penting ketika membaca orang lain. Namun hal ini juga bisa jadi malah berubah menjadi kesimpulan yang salah apabila tidak dikombinasikan dengan ciri lain yang konsisten.


Sebagai contoh, karakteristik menonjol dari orang yang berprofesi sebagai petani adalah kuku tangan yang hitam. Namun, karena kuku hitam juga karakteristik menonjol dari pekerja bengkel/montir, maka kita juga mesti melihat karakteristik menonjol lain. Sebagai contoh, otot yang berkembang, kapalan pada tangan, kulit yang hitam akibat terbakar matahari dan kuku kaki yang hitam adalah karakteristik lain dari petani yang menonjol.

2.   Pola dan Penyimpangan Pola
Salah satu cara untuk menarik informasi dengan akurat adalah dengan melihat kekonsistenan pola dari suatu karakteristik. Namun, petunjuk yang memiliki nilai paling besar dari dari suatu pola adalah penyimpangan terhadap pola tersebut. Penyimpangan pola ini biasanya terjadi secara tidak sengaja dan hal ini memberikan kita petunjuk jauh lebih banyak daripada pola yang konsisten.


Di dalam anime Detective Conan pada kasus pencurian di sebuah minimarket (season 12 episode 343-344), dalam sebuah flashback Kudo Sinichi menyebutnya sebagai berikut: “Apapun hal yang tidak biasa adalah sebuah petunjuk. Bahkan jika hal tersebut adalah sesuatu yang terlihat normal.” Inilah yang dimaksud pola dan penyimpangan pola. Bingung? Saya akan beri contoh sebuah kasus. Teman kerja kita yang biasanya sering datang pagi-pagi malah datang terlambat pagi hari ini. Matanya merah, ada kantung hitam di bawah matanya, jalannya agak sempoyongan dan dia memegang kepalanya. Apa yang terjadi? Kemungkinan besar dia adalah pribadi yang rajin dan disiplin (pola konsisten) namun tidak bisa tidur malam itu atau sakit (penyimpangan pola).

3.   Tingkat Keekstreman Karakteristik


Suatu karakteristik dalam pengamatan dan observasi memiliki tingkatan tertentu. Sebagai contoh, tingkat religiusitas seorang yang hanya memakai hijab tembus pandang dengan wanita yang memakai hijab kurung dan cadar tentu berbeda. Begitu juga dengan preman yang memiliki tato gambar naga dan harimau di punggungnya dengan preman yang memiliki tato bertuliskan “Cinta Mama” di lengannya.

4.   Karakter Permanen dan Non-Permanen
Karakter permanen adalah karakter/ciri yang permanen ada pada manusia, baik itu yang telah ada pada diri manusia sejak lahir, atau terjadi karena peristiwa-peristiwa tertentu. Sebagai contoh, cacat kaki karena kecelakaan, tompel dan tahi lalat, kebutaan sejak lahir, operasi plastik, dan hal-hal lainnya. Karakter permanen bisa mencerminkan masa lalu seseorang dan bagaimana mereka menjalani hidup mereka.


Sedangkan karakter non-permanen adalah karakter-karakter yang tidak permanen dan bisa diubah. Karakter seperti warna rambut, penampilan, potongan rambut, make-up dan aksesoris. Baik itu karakter permanen dan non-permanen memiliki perannya masing-masing dalam menguak informasi mengenai seseorang sehingga masing-masing tidak boleh diabaikan ketika melakukan deduksi dan membaca orang lain.

5.   Sengaja vs Tidak Sengaja
Seperti yang saya sebutkan sebelumnya pada bagian “Pola dan Penyimpangan Pola” ketidaksengajaan suatu karakteristik memberikan petunjuk lebih baik daripada karakter yang muncul secara sengaja. Walaupun begitu, karakter yang muncul secara sengaja memiliki peranannya sendiri dalam penarikan informasi dan kesimpulan terhadap subjek yang kita amati.

5 Hal diatas mesti menjadi fokus dan batu pijakan ketika kita berusaha membaca kepribadian, membaca karakter dan melakukan deduksi. Dengan melakukan pengamatan terhadap 5 hal tersebut, maka deduksi menjadi lebih terarah dan kita tahu apa yang mesti kita amati.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar