Sabtu, 02 April 2016

AHLI STRATEGI JIANG ZIYA, PEMBUKTIAN DI USIA SENJA




Untuk mempelajari ilmu strategi, maka kita mesti mempelajari biografi dan kisah orang-orang yang hidup sebelum kita (lih. 4 CARA EFEKTIF MEMPELAJARI ILMU STRATEGI). Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan mengenai salah satu tokoh ahli strategi zaman lampau di era Cina kuno. Nama ahli strategi tersebut adalah Jiang Ziya. Jiang Ziya adalah pencipta kitab strategi militer klasik “6 AJARAN RAHASIA JIANG TAIGONG”, salah satu dari 7 kitab militer klasik Cina (satu diantaranya adalah Seni Perang Sun Tzu). Yang unik dari Jiang Ziya ini, dia berhasil membuktikan dirinya sebagai ahli strategi militer yang hebat justru di saat usianya sudah uzur.


Jiang Ziya atau dikenal juga dengan sebutan Lu Shang, Jiang Shang atau Jiang Taigong adalah seorang ahli taktik dan strategi yang hidup di akhir era Dinasti Shang. Dia hidup di era Raja Zhou (Di Xin), seorang penguasa lalim dan tirani yang terkenal karena kesewenangannya membunuh dan menyiksa orang-orang yang keberatan dengan perbuatannya. Raja Zhou sering menghabiskan waktunya bersama Da Ji selir kesayangannya dan karena pengaruh selir tersebutlah dia menjadi penguasa lalim. Dikisahkan Raja Zhou bahkan membangun danau yang terbuat dari anggur (minuman keras) dan pohon yang ditumbuhi daging-daging panggang tinggal petik hanya untuk menyenangkan selirnya tersebut.

Jiang Ziya yang sebelumnya bekerja dengan setia di kerajaan selama hampir 20 tahun, sadar kalau rajanya benar-benar tidak bisa ditolong lagi. Supaya bisa melarikan diri dari kerajaan, dia kemudian pura-pura gila. Sebagai seorang ahli taktik dan strategi militer yang mumpuni, dia berharap suatu hari bisa menggulingkan raja kejam tersebut. Dengan memanfaatkan dirinya yang pura-pura gila, dia memancing di sungai tanpa menggunakan kail dengan harapan, ikan yang akan membantunya menggulingkan Raja Zhou akan muncul dengan sendirinya. Hal ini terus berlangsung hingga dia bertemu dengan Raja Wen, seorang kepala suku Zhou saat usianya sudah 72 tahun.

Raja Wen yang memang berniat menggulingkan Raja Zhou mencari orang-orang berbakat ke berbagai daerah. Ketika akhirnya dia bertemu dengan orang tua unik sedang memancing
di tepi Sungai Wei tanpa menggunakan kail. Kusir Raja Wen yang melihat hal unik tersebut
Ilustrasi Jiang Ziya Saat Memancing
kemudian berkata kepada tuannya,

 “Lihat tuan, orang tua ini memancing tanpa kail.” 

Raja Wen, kemudian turun dari kereta kudanya dan menyapa orang tua tersebut.
“Anda suka memancing tuan?” tanya Raja Wen

“Mancing? Apa ini yang namanya mancing? Pertanyaan bodoh!!!” jawab Jiang Ziya 

“Eh, lalu apa yang anda kerjakan?”

“Aku berpikir bagaimana menangkap dunia dan mewujudkan aspirasiku. Hanya orang fana yang senang menangkap ikan kecil. Orang berguna dan orang fana sama sibuknya, namun karena aspirasinya berbeda, hasilnya juga berbeda. Bagaimana mungkin orang fana dengan daya tarik duniawi mengerti aspirasi orang berguna?”

Mendengar jawaban dari orang tua tersebut, Raja Wen akhirnya sadar kalau orang tua tersebut bukanlah orang biasa. Dia kemudian mengundang dan mengajak Jiang Ziya sebagai tamu kehormatan dan mengangkatnya sebagai penasihat utama. Tidak lama setelah peristiwa tersebut, Raja Wen meninggal dunia. Anaknya Raja Wu kemudian menggantikannya. 

Raja Wu yang ingin meneruskan keinginan ayahnya untuk menggulingkan penguasa lalim Zhou, mulai mengumpulkan tentaranya dan berusaha untuk menyerang kerajaan Shang. Jiang Ziya justru mencegah Raja Wu dan menyuruhnya untuk bersabar. Dia berkata, “Ketika aku memancing di tepi sungai dengan alat pancing tanpa kail, aku sadar kalau kita mesti bersabar kalau ingin berhasil. Kita mesti menunggu saat yang tepat untuk menggulingkan Raja Shang. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk menyerang.” 

Tidak lama setelah peristiwa tersebut, berdasarkan informasi intelejen, terungkap kalau rakyat Shang begitu tertekan sehingga tidak ada satupun dari mereka yang berani berbicara. Melihat rakyat yang telah pasrah kepada penguasanya, Jiang Ziya kemudian berkata kepada Raja Wu kalau saat penyerangan telah tiba.

Dengan Jiang Ziya sebagai ahli strategi di pihak Zhou, Raja Wu memimpin sekitar 50.000 orang tentara. Pada dasarnya, tentara Raja Zhou yang lalim sedang berperang di daerah timur. Namun walaupun begitu, dia masih memiliki sekitar 530.000 tentara untuk melindungi ibukota Yin. Tetapi karena dia ingin benar-benar menang secara mutlak, dia mempersenjatai sekitar 170.000 orang budak untuk melindungi ibu kota. Para budak ini sadar kalau Raja Zhou adalah pemimpin korup dan kejam, dan justru malah berbalik memihak Raja Wu.

Peristiwa memihaknya para budak kepada Raja Wu, menjadikan moral tentara Shang turun drastis. Ketika pertempuran Muye ini terjadi, banyak tentara Shang yang tidak ingin bertempur dan memegang tombak mereka secara terbalik untuk menunjukkan kalau mereka tidak ingin bertempur. Beberapa tentara Shang kemudian ikut memihak kepada Raja Wu. Walaupun begitu, masih banyak pasukan yang setia kepada Raja Zhou dan akhirnya pertarungan penentuan terjadi.

Tentara di pihak Raja Wu sangat terlatih dan moral mereka sedang tinggi-tingginya. Bahkan dalam pertempuran menggunakan kereta kuda, Raja Wu sendiri berhasil merangsek masuk ke dalam pertahanan terntara Shang. Dikisahkan kalau darah yang menggenang dari pertempuran tersebut bahkan membuat batang pohon mengambang. Pasukan Raja Wu tidak memberi ampun sedikitpun pada pasukan Shang.

Raja Zhou, yang sadar kalau dirinya sudah habis, kemudian melarikan diri ke istananya. Di sana, dia mengelilingi dirinya dengan banyak permata kemudian membakar dirinya. Da Ji selirnya kemudian dihukum mati atas perintah Jiang Ziya sendiri. Pejabat-pejabat kerajaan Shang yang sebelumnya bekerja pada Raja Zhou diampuni dan kemudian bekerja kepada Raja Wu sebagai raja yang baru. Gudang beras kerajaan kemudian dibuka sebebas-bebasnya sehingga rakyat yang kelaparan bisa makan. Jiang Ziya kemudian diangkat sebagai perdana menteri oleh Raja Wu yang kemudian mendirikan Dinasti Zhou. 

Berkat kemampuan Jiang Ziya dalam strategi miiter dan sipil, rakyat Dinasti Zhou menjadi kaya, makmur dan kuat jauh melebihi ketika Dinasti Shang berkuasa sebelumnya. Hal ini menyebabkan Jiang Ziya menjadi Perdana Menteri terhebat sepanjang sejarah Cina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar