Sabtu, 23 April 2016

50 Sifat dan Karakter Pemimpin Sejati ala Detektif



Jika kita sebagai manusia wajib memiliki karakter tertentu yang benar-benar KUDU dimiliki, kira-kira karakter apakah itu? Mungkin ada yang bilang “JUJUR”. Jujur mungkin harus dimiliki manusia, tapi kejujuran jika dikombinasikan dengan kebodohan dan ketidakpedulian maka jujur itu tidak bermanfaat. Terus apa dong? Baik? Baik itu relatif. Baik yang bagaimana? Kalau kalian tidak tahu saya akan jawab sendiri. Kalau ada satu karakter yang semua manusia MESTI memilikinya, maka karakter tersebut adalah KEPEMIMPINAN. Kenapa pemimpin? Saya mau tanya. Ada yang pernah belajar sejarah? Kira-kira figur penting seperti apa yang selalu diceritakan di dalam sejarah? Ayo kita sebutkan satu persatu. Napoleon Bonaparte, Umar Bin Khattab, Sun Tzu, St. Joan, Pangeran Diponegoro, Mahatma Gandi, Otto Von Bismarck, Nabi Musa, mereka memiliki satu hal yang sama. MEREKA ADALAH SEORANG PEMIMPIN.   

Pada kesempatan kali ini, saya akan menuliskan artikel mengenai 50 sikap dan karakter yang “kudu” dimiliki oleh seorang pemimpin. Berikut adalah daftarnya:

1.   Memiliki Penilaian Tajam
Sebagai seorang pemimpin, kita mesti memiliki kemampuan menilai. Dengan memiliki kemampuan menilai secara tepat, maka kita akan mampu merekrut orang pintar, melakukan strategi yang brilian dan memberikan sanksi dan penghargaan secara adil. Dengan ketajaman penilaian, seorang pemimpin akan menjadi pemimpin yang besar. Sebagai contoh Zhuge Liang merupakan ahli strategi Negara Shu. Ketika dia ingin melakukan penyerangan atas suatu wilayah, dia akan melihat keadaan lokasi yang kira-kira akan menjadi medan perang beberapa tahun sebelumnya. Dia tidak hanya akan memperkirakan jenis medan, namun juga kondisi tanah, cuaca, juga potensi penggunaan jalur suplai dan pengiriman bantuan.

2.   Menerima Masukan Orang Lain
Seorang pemimpin harus menerima saran dan kritikan yang dilakukan dengan tujuan membangun. Sudah terbukti di dalam sejarah, pemimpin negara yang tidak mendengarkan masukan dari penasihatnya, maka negeranya akan hancur. Sebagai contoh dalam artikel saya yang berjudul Ahli Strategi Jiang Ziya, Pembuktiandi Saat Usia Senja, saya menceritakan mengenai seorang raja lalim bernama Di Xin (Raja Zhou) yang membunuh setiap orang yang menasehatinya. Bagaimana akhir dari hidupnya? Dia membakar dirinya setelah pemberontak menguasai istananya. Itulah nasib orang yang tidak mau menerima masukan orang lain.

3.   Tenang Dalam Situasi Genting
Seorang Pemimpin harus selalu tenang dalam berbagai situasi dan kondisi. Dengan sikap yang tenang, kita akan mampu melakukan penilaian secara objektif dan melakukan strategi yang efektif. Saya akan menggunakan contoh kasus sejarah. Pada era Musim Semi Musim Gugur (era Cina kuno), Negara Jing melakukan penyerangan terhadap Negara Wu. Untuk merundingkan perdamaian, mereka mengirimkan Juwei Jurong sebagai sebagai utusan. Setibanya di sana, dia langsung diikat dan diancam dibunuh. Juwei Jurong bersikap dengan tenang. Dia berargumen bahwa kalau dia dibunuh, maka itu akan membangkitkan amarah tentara Wu. Ketika Jenderal pemimpin pasukan Jing memberikan suatu argumen yang provokatif, maka Juwei Jurong terus memberikan argumen yang masuk akal untuk melawan argumen tersebut. Berkat ketenangannya tersebut, dia dilepaskan dan berhasil lolos dari maut yang yang menghampiri dirinya.

4.   Mampu Menjaga Prinsip dan Moral
Seorang pemimpin harus memiliki prinsip. Tidak peduli dia diejek, dihina atau difitnah dengan keji, seorang pemimpin tidak boleh bertindak keluar dari jalur prinsip dan nilai yang dia yakini. Pemimpin seperti ini biasanya dihormati oleh kawan dan disegani oleh lawan.

5.   Memiliki Kemampuan Komunikasi Yang Baik
Untuk yang muslim, apakah sifat wajib nomor 3 yang harus dimiliki oleh Nabi dan Rasul? Betul, tabligh. Tabligh berarti “menyampaikan”. Hal ini menyangkut kemampuan komunikasi (seorang Nabi dan Rasul harus memiliki kemampuan komunikasi). Dengan kemampuan komunikasi yang baik, kita akan mampu melakukan negosiasi, orasi pembakar semangat dan berbagai hal-hal yang bermanfaat lainnya. Jadi untuk orang-orang yang memiliki sifat nerdy dan otaku, keluarlah dan bicaralah dengan orang lain. Kemampuan sosial juga merupakan salah satu syarat bagi seseorang jika ingin memiliki kemampuan menarik informasi secara sekilas (baca juga: 6 Syarat Absolut Melakukan Deduksi ala Detektif) atau membaca kepribadian orang lain.

6.   Disiplin/Tegas
Seorang pemimpin harus tegas. Dia harus memiliki keseimbangan antara pemberian sanksi/hukum dan dan pemberian hadiah. Di dalam organisasi yang dia pimpin, dia harus memiliki susunan aturan yang jelas dan tidak membingungkan. Aturan tersebut harus dipatuhi oleh setiap anggotanya. Dengan kedisiplinan, suatu organisasi akan tertib. Organisasi yang tertib akan solid. Organisasi yang solid akan berhasil mencapai tujuannya.

7.   Tidak Pandang Bulu (Objektif)
Seorang pemimpin harus bersikap adil. Dia harus memberikan penghargaan kepada orang yang berjasa bahkan jika ia membencinya. Dia harus memberikan sanksi yang jelas bahkan jika itu kepada anaknya sendiri. Contoh hal ini bisa dilihat pada bagaimana Umar bin Khattab r.a menerapkan hukum. Ketika anaknya ketahuan mabuk-mabukan dia sendiri yang melakukan deraan terhadap anaknya sendiri, bahkan saking kerasnya pukulan Umar, anaknya langsung meninggal. Orang-orang banyak yang menggunjingnya setelah kejadian tersebut, namun dia tidak peduli karena dia sudah bersikap objektif dan adil dalam bertindak.

8.   Tidak Bertele-tele
Seorang pemimpin tidak boleh membuat bawahannya bingung dengan perintah yang rumit dan kompleks. Berikan bawahan perintah yang jelas, sederhana dan mudah dimengerti, sehingga perintah tersebut akan dijalankan dengan benar.

9.    Mampu Menjaga Kerahasiaan
Seorang pemimpin harus bisa menjaga kerahasiaan bahkan kepada bawahannya. Dengan kerahasiaan yang terjaga, maka lawan (pesaing) tidak akan mampu menebak arah perjalanan kita. Oleh karena itu, penting seorang pemimpin memiliki orang kepercayaan. Jangan salah pilih!

10.   Waspada !!!
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang waspada terhadap berbagai kemungkinan. Dia tidak terlena terhadap kenikmatan dan tidak bergeming di hadapan bahaya.

11.   Ahli dalam Strategi
 
Seorang pemimpin haruslah ahli dalam strategi. Dengan keahlian dalam berstrategi, pemimpin akan mampu membaca pergerakan lawan/pesaing dan mampu memberikan respon-respon yang tepat terhadap hal tersebut. Keahlian dalam berstrategi ini bisa dipelajari dengan banyak cara. Di dalam artikel saya yang berjudul 4 Cara Melatih Ilmu Strategi, saya menuliskan bagaimana cara melatih ilmu strategi. Selain itu, saya sarankan juga untuk membaca artikel saya yang berjudul 36 Strategi JENIUS yang Wajib Diketahui Detektif, Penegak Hukum dan Pejuang Cinta.

12.   Mengetahui Psikologi Manusia
Pemimpin yang baik harus mengetahui berbagai sikap-sikap dasar manusia dan menggunakannya untuk memotivasi bawahan atau memprediksi langkah lawan.

13.   Memiliki Visi
Secara singkat, visi adalah tujuan jangka panjang. Seorang pemimpin harus memiliki visi, cita-cita dan ambisi. Dengan visi yang baik, organisasi yang kita pimpin akan memiliki arah yang jelas. Kejelasan arah akan membuat organisasi yang kita pimpin fokus pada satu tujuan.

14.   Berani Mengambil Resiko
Seorang pemimpin harus berani mengambil resiko. Jika kita gagal, maka hal tersebut akan memberikan pembelajaran pada kita. Jika berhasil hal tersebut akan memberikan keuntungan pada kita.

15.   Menghentikan Masalah Sebelum Membesar
Seorang pemimpin harus bisa melihat bibit-bibit masalah, memprediksi masalah yang akan ditimbulkan dan segera menghancurkan bibit masalah tersebut. Selesaikan hal ini sebelum hal ini mulai membesar.

16.   Memikirkan Konsekuensi Atas Tindakan
Walaupun seorang pemimpin memang harus mau mengambil resiko, namun kita harus tetap memikirkan konsekuensi atas tindakan kita. Dengan memikirkan konsekuensi atas tindakan, kita akan mampu bersiap atas berbagai kemungkinan terburuk.

17.   Peduli dan Tidak Acuh
Seorang pemimpin harus punya kepedulian atas apa yang dia pimpin. Ketidakpedulian hanya akan menghancurkan sebuah organisasi. Di dalam artikel saya yang berjudul Dapatkan Jalan Aman Untuk Menaklukkan Guo (36 Strategi Yang WAJIB Diketahui Detektif, Pebisnis dan Pejuang Cinta), saya menceritakan mengenai seorang raja yang tidak peduli akan konsekuensi perbuatannya dan nasehat dari para menterinya. Akhirnya negara tetangga yang bertindak sebagai “perisai” bagi wilayahnya hancur. Hal ini menjadi jalan dikuasainya negaranya tidak lama kemudian.

18.   Memiliki Kecerdasan
Ini mungkin agak klise, tapi pemimpin apalagi pemimpin yang besar harus memiliki kecerdasan. Muhammad Al-Fatih Sang Penakluk Konstantinopel dikabarkan ketika umur 8 tahun sudah Hafal Quran, mahir dalam 8 bahasa ketika berumur 16 tahun. Selain itu, dia juga mahir dalam berbagai ilmu strategi yang dia pelajari dari Sirah Nabawiyah, matematika, ilmu perbintangan dan sains. Ini adalah kualitas dari seorang pemimpin yang berhasil “memperawani” tembok Konstantinopel yang tidak pernah jebol selama 11 abad. Bagaimana dengan kita? Tidak perlu sampai seperti ini, cukup dengan kuasai bidang-bidang tertentu yang bisa membantu kepemimpinan kita, lebih baik lagi kalau bisa seperti Muhammad Al-Fatih.

19.   Jujur dan Dapat Dipercaya

Ini adalah satu hal lain yang paling klise, namun paling diharapkan dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin haruslah jujur dan amanah. Dia tidak boleh korup. Dia juga tidak boleh memanfaatkan kekuasannya untuk kepentingan pribadi (kecuali jika kekuasaan tersebut adalah atas hartanya sendiri yang diperoleh dari jalan yang halal). Kita bisa mencontoh Khalifah Umar Bin Abdul Aziz dalam masalah ini. Suatu hari anak sang khalifah mendatangi ayahnya untuk membicarakan sesuatu ketika dia sedang bertugas. Ketika anaknya ingin berbicara, Umar Bin Abdul Aziz langsung menyela dan berkata, “Ini mengenai masalah pribadi atau masalah negara?” Anaknya menjawab kalau ini masalah pribadi. Umar bin Abdul Aziz langsung memadamkan lampu minyak yang ada dihadapannya. Kenapa dia melakukan ini? Ternyata minyak tersebut dibiayai menggunakan biaya baitul mal (harta umat) sehingga hanya bisa digunakan untuk kepentingan umat.

20.   Mesti Bertanggung Jawab

Seorang pemimpin mesti memiliki sikap yang bertanggung jawab. Semakin besar wilayah kekuasaan kita/organisasi yang kita pimpin, semakin besar pula tanggung jawab yang kita tanggung. Tidak selamanya apa yang kita lakukan akan berjalan lancar atau tidak memiliki efek samping. Kesalahan-kesalahan kita sebagai pemimpin mesti kita pertanggungjawabkan apalagi jika akibatnya sangat besar.

21.   Menjaga Imej dan Penampilan

 

Mengingat pemimpin adalah orang yang akan selalu bersosialisasi dengan orang lain, maka dia harus menjaga kebersihan dan tingkat kerapihan tubuhnya. Dia juga harus menjaga sikap dan tingkah lakunya. Mengingat kita berada di era digital seperti sekarang, hal ini justru harus lebih banyak ditekankan. Banyak orang terkenal yang hanya karena ingin melampiaskan kekesalannya di Twitter, akhirnya dituntut ratusan juta dollar oleh orang yang tidak menyukai cuitannya. Ingat kasus Ryan Babel salah satu punggawa Liverpool dulu?

22.   Memiliki Kesabaran
Setiap pemimpin harus memiliki kesabaran atas kinerja bawahan, kondisi organisasi, dan hal lain yang menyangkut kepemimpinan kita. Jangan pernah menggunakan emosi untuk memperbaiki kinerja tersebut. Jika kita ingin berbicara dengan bawahan kita yang bermasalah, bicaralah kepadanya secara face to face. Jangan mempermalukannya di depan orang lain. Lakukan dengan perlahan dan argumen yang tepat. Kita bisa mencontoh Zhuge Liang, Perdana Menteri Kerajaan Shu Han di era Tiga Negara. Serumit apapun kejadian yang ada di hadapannya, dia hanya mengipas-ngipaskan “kipas bulu bangaunya” sambil mencari permasalahan. Dia tidak pernah membiarkan kemarahan menguasai dirinya.

23.   Berusaha Terus Mengasah Kemampuan Diri
Seorang pemimpin harus terus berusaha memperbaiki diri, menambah ilmu dan perbendaharaan pengetahuannya. Bill Gates sang penemu Microsoft sebagai contoh, setelah melakukan urusan-urusan keluarga hingga pukul 10 malam akan menghabiskan waktu untuk membaca buku-buku yang ingin dia baca hingga pukul 1 malam dan beristirahat setelahnya.

24.   Mampu Bersikap Adil
Sikap adil ini memang perlu ditekankan. Kita mesti memberikan hadiah sesuai jasa dan hukuman sesuai peraturan. Mau sebawah apapun pangkatnya, jika bawahan kita mempertaruhkan nyawanya demi organisasi kita maka kita mesti memberikan penghargaan yang besar terhadap jasanya tersebut. Begitu pula masalah hukum. Di dalam Seni Perangnya yang legendaris, Sun Tzu menekankan keseimbangan antara pemberian hukuman dan hadiah sebagai 1 dari 7 faktor dalam memenangkan suatu peperangan. Hal ini bisa kita terapkan juga dalam bisnis dan berorganisasi.

25.   Mampu Beradaptasi dan Fleksibel
Seorang pemimpin harus mampu beradaptasi pada berbagai lingkungan berbeda dan pada zaman yang berbeda-beda. Istilah kerennya blend-in. Pemimpin juga harus fleksibel dan tidak kaku. Dia tidak boleh memaksakan pendapat pribadinya untuk digunakan kepada orang lain, atau kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

26.   Memiliki Kemampuan Memecahkan Masalah
Pemimpin yang baik mampu memecahkan masalah orang lain dan organisasi yang dia pimpin. Dia memiliki kecerdasan untuk melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang dan menemukan solusi dari masalah tersebut. Selain itu, seorang pemimpin juga dituntut untuk bisa menyelesaikan pertikaian dan perselisihan yang terjadi dalam organisasi yang dia pimpin. Zaman dahulu orang disebut pemimpin apabila mampu menyelesaikan suatu pertikaian yang terjadi di antara kaumnya secara adil. Ini juga berlaku di masa sekarang.

27.   Meningkatkan Kualitas Bawahan
Seorang pemimpin yang baik tidak hanya ingin dirinya berkembang, namun juga orang yang dia pimpin. Karena itulah zaman sekarang banyak pebisnis-pebisnis sukses yang selalu memberikan kursus-kursus atau seminar-seminar tertentu kepada para bawahannya supaya mereka bisa berkembang. Upaya peningkatan kualitas bawahan ini merupakan salah satu ciri bentuk kepemimpinan yang baik.

28.   Mampu Memotivasi Bawahan
Seorang pemimpin yang baik mampu melihat keinginan dan masalah yang dihadapi bawahan dan menggunakannya untuk memotivasinya untuk meningkatkan pekerjaannya. Entah itu dengan hadiah, penghargaan atau dengan hal lain seperti cuti keluarga seminggu. Kemampuan memotivasi ini harus dimiliki oleh setiap pemimpin.

29.   Ramah dan Murah Senyum
Mungkin hal yang satu ini terbilang aneh apabila saya tuliskan di sini. Namun sikap yang ramah dan kemurahan senyum akan mampu membuat orang yang berada di sekeliling kita nyaman. Hal ini penting untuk memotivasi bawahan. Nabi Muhammad S.A.W misalnya terkenal sebagai orang yang murah senyum hal ini membuat para sahabat sangat nyaman berada di antara beliau.

30.   Tidak Terjebak Dalam Pikiran Negatif

Seorang pemimpin harus selalu optimis dan berpikiran positif. Selain itu, seorang pemimpin tidak boleh memperlihatkan sikap negatif (seperti gugup dan panik) karena hal ini akan mempengaruhi kinerja bawahannya. Ketika pemimpin memperlihatkan kepanikan, maka bawahan akan mengikutinya. Di dalam kitab “3 Strategi Huang Shigong”, disebutkan bahwa seorang Jenderal tidak boleh berkata lapar sebelum para tentaranya makan, tidak boleh berkata haus sebelum tentaranya minum, tidak boleh menggunakan payung di saat yang lain kehujanan. Hal ini menyangkut teknik psikologi untuk menenangkan tentara dan meningkatkan motivasi mereka.

31.   Menahan Keinginan Pribadi
Pemimpin sejati harus mampu menahan keinginan pribadinya apalagi di saat terjadi krisis. Kita bisa berkaca dari kisah Umar bin Khattab r.a. Ketika terjadi kelaparan di dunia muslim saat itu, orang-orang berbondong-bondong pergi ke Madinah untuk mendapatkan makanan. Melihat hal ini, Khalifah bersedih dan bernazar bahwa dia tidak akan makan-makanan enak selama rakyatnya masih kelaparan. Khalifah Umar langsung mengirimkan surat pada gubernur-gubernur lain untuk mengirimkan makanan ke Madinah. Satu persatu makanan muncul hingga peristiwa kelaparan tersebut berhasil diatasi. Ketika peristiwa kelaparan usai, kulit Khalifah Umar yang asalnya putih berubah menjadi coklat dikarenakan selama kelaparan terjadi dia hanya makan roti dengan minyak saja.

32.   Menerapkan Meritokrasi
Penguasa yang bijak akan mempekerjakan orang jujur dan memberikan posisi-posisi penting pada orang yang tepat. Inilah yang disebut meritokrasi. Penempatan posisi-posisi tertentu pada orang yang tepat akan membuat suatu organisasi menjadi kuat. Hal ini juga mampu memotivasi bawahan untuk meningkatkan kinerjanya apabila mereka menginginkan terjadinya kenaikan jabatan.

33.   Tidak Menilai Berdasarkan Penampilan
Pang Tong
Seorang pemimpin tidak boleh menilai seseorang berdasarkan penampilannya. Penampilan seringkali menipu dan orang-orang yang berbakat seringkali tidak terlihat menarik. Oleh karena itu, kita mesti teliti ketika melakukan penilaian terhadap orang lain. Ketike era 3 negara, Pang Tong seorang ahli strategi yang setara dengan Zhuge Liang berniat mengabdi pada Negara Dong Wu yang dipimpin oleh Sun Quan. Ketika bertemu dengan Sun Quan, Sun Quan tertawa terbahak-bahak dikarenakan Pang Tong orang yang buruk rupa. Hal ini membuat Pang Tong tersinggung dan akhirnya justru lebih memilih mengabdi terhadap Negara Shu Han. Jika saja Sun Quan tidak mentertawai Pang Tong, tentu Pang Tong sudah menjadi pengganti Zhou Yu dan mengabdi pada Dong Wu saat itu.

34.   Memberikan Teladan Terhadap Bawahan
Seorang pemimpin yang ideal selalu memberikan contoh dan keteladanan yang baik terhadap para bawahannya. Julius Cesar misalnya ketika melakukan ekspansi wilayah, dia ikut bersama para prajuritnya menggali parit. Dia tidak malu ataupun gengsi ketika melakukan hal tersebut. Hal ini mesti kita tiru apabila ingin menjadi pemimpin yang baik.

35.   Menyimak dan Mendengarkan Dengan Baik
Seorang pemimpin harus memiliki telinga yang bagus dan awas. Dia harus mampu mendengar gosip, fitnah, kritik dan gunjingan dari orang-orang yang berada di belakangnya. Dia juga harus mampu menyimak pendapat yang berbeda-beda. Dengan menjadi pendengar yang baik, kita akan mampu menarik berbagai info-info penting dan menggunakannya demi kepentingan organisasi/komunitas yang kita pimpin.

36.   Harus Mampu Menyaring Pendapat 

Sebelumnya saya menuliskan kalau pemimpin harus terbuka dan menerima pendapat, namun hal ini hanya berlaku untuk saran dan kritik yang membangun saja. Saran dan kritik yang dikemukakan mesti disaring dan difilter. Beberapa kritik dan saran seringkali menyesatkan. Karena itulah, ketika kita memimpin telinga kita mesti awas dan simak. Pendapat orang yang berbeda-beda harus dipelajari dan diamati dengan cermat.

37.   Mampu Melihat dan Memanfaatkan Peluang

Seorang pemimpin dituntut untuk mampu melihat peluang dan memanfaatkannya. Dengan memanfaatkan peluang dan kesempatan yang ada, organisasi yang kita pimpin akan memperoleh momentum. Momentum tersebut bisa membuat organisasi keluar dari krisis, memperoleh tujuan jangka pendek/panjang dari organisasi, juga merupakan momen dan kesempatan untuk melangkah maju.

38.   Teliti dan Menyeluruh

Ketelitian dan kecermatan sangat diperlukan supaya proyek di dalam organisasi bisa dilakukan secara baik dan benar. Sikap menyeluruh dilakukan supaya kita tidak melewatkan sesuatu yang bisa dijadikan batu sandungan nantinya. Sikap teliti dan menyeluruh mesti dilakukan jika kita ingin organisasi yang kita pimpin tidak mengalami masalah di kemudian hari.

39.   Peka Terhadap Sekeliling
Peka artinya sadar akan perubahan yang terjadi pada lingkungan. Singkatnya, sensitif. Sifat peka dan penuh pengamatan merupakan salah satu sikap penting yang mesti dimiliki individu. Pemimpin apalagi harus memiliki sifat yang satu ini. Kepekaan merupakan senjata seorang pemimpin. Melatih kemampuan observasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kepekaan terhadap sekeliling. Artikel saya yang berjudul Cara 4 Cara Melatih Kemampuan Observasi Menurut Berbagai Pakardan Sumber bisa dijadikan rujukan.

40.   Mengkontrol Kerja

Salah satu kemampuan pemimpin yang perlu dimiliki adalah kemampuan untuk menjadi kontrol atas kinerja organisasi. Pemimpin harus bisa meningkatkan kinerja bawahan melalui pengawasan dan pengendalian.

41.   Kemampuan Observasi
Kemampuan mengamati harus dimiliki oleh setiap pemimpin sejati. Dengan pengamatan yang mumpuni, maka evaluasi kinerja pegawai serta perbaikan even-even yang terjadi sebelumnya akan menjadi semakin mudah. Saya sarankan untuk membaca artikel yang berjudul 11 Mindset Mutlak Saat Melakukan Deduksi dan 4 Cara Melatih Kemampuan Observasi untuk meningkatkan kemampuan ini (lihat tautan nomor 39 di atas).

42.   Mengevaluasi
Seorang pemimpin harus mampu menilai dan mengevaluasi kinerja bawahan. Evaluasi bertujuan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang terjadi pada even dan pekerjaan sebelumnya sehingga tidak terulangi di masa yang akan datang. Dengan adanya evaluasi, kita bisa melakukan refleksi dan memperbaiki kinerja organisasi di masa yang akan datang.

43.   Memiliki Orang Kepercayaan
Sangatlah penting bagi seorang pemimpin untuk memiliki orang kepercayaan. Sudah bukan rahasia lagi jika orang-orang sukses di zaman dahulu memiliki tangan kanan yang mana mereka berikan rahasia dan hidup mereka di tangan orang tersebut. Dulu, Julius Cesar memiliki Octavious Augustus dan Antonius sebagai orang kepercayaannya. Nabi Muhammad memiliki Huzaifah bin Al-Yaman r.a sebagai orang kepercayaannya. Yesus memiliki St. Petrus sebagai orang kepercayaannya. Liu Bei memiliki Zhuge Liang sebagai orang kepercayaannya. Dengan memiliki tangan kanan, kita akan mampu menjalankan organisasi dan pemerintahan dengan baik dan efisien.

44.   Kemampuan Merekrut Orang Berbakat
Seorang pemimpin harus mampu menilai bakat dan orang-orang yang memilikinya. Kemampuan menilai ini harus dimiliki pemimpin apalagi jika organisasi yang kita miliki belum besar.
 
45.   Rendah Hati

Sebagai pemimpin kita harus memiliki sikap rendah hati. Sebanyak dan sebagus apapun pencapaian kita, selalu ada orang yang lebih baik daripada kita. Selain itu, sikap merendah memiliki efek psikologis yang hebat apabila dikombinasikan dengan berbagai rangkaian strategi dalam berorganisasi.

46.   Kritis dan Penasaran
Seorang pemimpin mesti memiliki sikap kritis dan memiliki rasa penasaran. Dengan sikap kritis, maka evaluasi akan bisa terus dilakukan secara berkala. Sementara itu sikap penasaran bisa membangkitkan pengetahuan-pengetahuan baru yang bisa dijadikan batu pijakan dalam memajukan organisasi. Sebagai contoh, perusahaan-perusahaan besar seringkali melakukan survey dan eksperimen supaya bisa mengetahui keinginan konsumen. Dengan data ini, kita bisa melakukan respon tepat untuk memajukan perusahaan dan meningkatkan daya jual.

47.   Menghindari Ego dan Perdebatan

Pemimpin sejati senantiasa menghindari sikap-sikap yang tidak produktif seperti sikap egois dan mau menang sendiri. Mementingkan ego dan melakukan perdebatan (apalagi jika sudah tidak logis dan masuk akal) hanya membuang waktu dan tenaga. Akan lebih baik apabila kita mengalah pada pendapat yang jauh lebih baik daripada pendapat kita, namun jika pendapat kita lebih baik paparkan keunggulan dan kekurangan pendapat kita dengan cara yang logis, santun dan lebih beretika.

48.   Ahli Dalam Pengumpulan Informasi
Napoleon berkata, “Perang adalah Informasi”. Sun Tzu juga berkata, “Jika kau mengenali dirimu dan mengenali musuhmu, maka kau tidak akan kalah dalam 1000 pertempuran.” Begitu pentingnya kemampuan untuk mengumpulkan informasi membuat kemampuan mengumpulkan informasi menjadi kemampuan primadona di era peperangan. Hal ini juga relevan dalam mengelola organisasi, keluarga dan perusahaan.

49.   Tidak Memperlihatkan Kekuatan Aslinya

Pemimpin sejati tidak mungkin memperlihatkan kekuatan aslinya. Dengan tidak memperlihatkan kekuatan asli dan bersikap rendah hati, maka musuh/lawan/saingan kita tidak akan mampu melihat kemampuan asli kita. Dengan kurangnya informasi yang memadai, saingan kita akan bersikap arogan, gegabah dan kurang berhati-hati. Hal ini akan membuatnya jatuh.

50.   Menjaga Kesehatan

Seorang pemimpin adalah orang yang paling sibuk dalam suatu organisasi. Karena itulah dia harus menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Dia harus makan makanan yang bergizi dan rutin melakukan olahraga. Dengan tubuh yang fit dan prima, kinerja kepemimpinan tidak akan terganggu yang berarti kinerja organisasi akan terjamin dengan baik.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar