Selasa, 22 Maret 2016

PENTINGKAH PERENCANAAN DALAM MENENTUKAN STRATEGI?


Patung Sun Tzu (sumber: davidbrim.com)


Apakah penting perencanaan dalam menentukan strategi? Sun Tzu, di dalam seni perangnya yang terkenal meletakkan “PERENCANAAN” sebagai BAB awal, bab paling pertama yang mesti kita baca. 

Seni perang kemudian ditentukan oleh 5 faktor konstan yang harus diperhitungkan ketika mempertimbangkan sesuatu, ketika ingin menentukan kondisi lapangan. (Kelima hal tersebut) yaitu:
1.   Hukum Moral
2.   Langit
3.   Bumi
4.   Sang Komandan
5.   Metode dan Disiplin
(Seni perang, Bab I bait 3)


Ketika melakukan perencanaan dalam berstrategi, kita mesti memperhitungkan berbagai macam hal. Semakin banyak hal yang diperhitungkan, semakin baik. Dengan matangnya perhitungan, maka kita akan mampu mengantisipasi berbagai pergerakan musuh dan saingan kita, dan menggunakannya sebagai titik balik untuk memenangkan pertempuran.

Dikisahkan ketika Zhuge Liang (perdana menteri negara Shu Han di era tiga negara) ingin melakukan penyerangan terhadap negeri Wei, maka dia akan pergi ke medan yang kira-kira akan digunakan untuk berperang beberapa tahun sebelumnya. Lalu dari sana, kemudian dia mempertimbangkan berbagai macam faktor seperti cuaca, musim, kontur tanah, kondisi geografi dan berbagai hal penting lainnya. Persiapan yang baik inilah yang menyebabkan Sima Yi (ahli strategi perang kerajaan Cao Wei) sangat kerepotan ketika harus berhadapan
Ilustrasi Sima Yi dan Zhuge Liang (Game Dynasty Warrior 5)
dengan strategi agresif ekstrem yang diterapkan Zhuge Liang.

Kembali pada Seni Perang Sun Tzu, 5 hal yang disebutkan sebelumnya di atas, harus diketahui dan dikuasai oleh ahli strategi yang mumpuni. HUKUM MORAL meliputi keyakinan dan motivasi. Sun Tzu menjelaskannya sebagai berikut: Hukum moral menyebabkan rakyat sejalan dengan sang penguasa, sehingga mereka akan mengikutinya tanpa mempedulikan nyawanya sendiri, tak bergeming sedikitpun terhadap berbagai macam bahaya. Dengan motivasi yang tinggi dan keyakinan yang kuat, kita akan mampu menguasai berbagai macam pertempuran. Hukum moral bisa dibangkitkan melalui ahlak dan kebaikan terhadap bawahan, keseimbangan antara pemberian hadiah dan hukuman, dan kondisi-kondisi lainnya seperti rasa takut dan harga diri. Sebagai orang islam, maka figur paling tepat yang mesti kita contoh dalam penggunaan hukum moral terhadap bawahannya adalah bagaimana perlakuan Rasulullah Nabi Muhammad S.A.W. terhadap para sahabatnya.

Yang kedua adalah LANGIT. Langit meliputi siang dan malam, dingin dan panas, waktu dan musim. Maksudnya, ketika kita menerapkan strategi kita mesti memperhitungkan waktu yang tepat, suasana yang mendukung, dan kondisi cuaca. Orang-orang di barat yang mengkaji seni perang Sun Tzu, seringkali mengidentikkan langit ini dengan faktor eksternal, yang mana hal ini kurang terlalu tepat.

Yang ketiga adalah BUMI. Bumi terdiri atas jarak, besar dan kecil, bahaya dan keamanan, lapangan terbuka atau jalur yang sempit, kesempatan hidup dan mati. Ketika kita melakukan perencanaan, kita mesti memperhitungkan mengenai medan dan jalur transportasi, tempat yang kita tuju, bagaimana kondisi sekeliling medan, peralatan apa yang mesti kita bawa, apakah jalur transportasi dan medan yang kita tempati menguntungkan kita, dan banyak hal lainnya.

Yang keempat adalah SANG KOMANDAN. Sang Komandan menyangkut sifat kebijaksanaan, kesungguhan, kebajikan, keberanian dan ketegasan. Di dalam kitab 3 Strategi Huang Shi Gong, terdapat sifat lain yang harus dimiliki seorang komandan yang dikenal dengan sebutan 8 perangai baik. Sifat-sifat tersebut adalah: (1) Ia harus jujur dan tidak korup; (2) Ia harus tetap tenang dalam peperangan; (3) Ia harus adil dan pandai menimbang; (4) Ia harus tegas dalam menegakkan disiplin militer; (5) Ia harus terbuka dan mau mendengar pendapat bawahannya; (6) Ia harus pandai menentukan mana yang salah dan mana yang benar; (7) Ia harus menempatkan orang sesuai dengan bakatnya masing-masing; (8) Ia harus pandai menyimak banyak pendapat yang berbeda.

Yang kelima adalah METODE DAN DISIPLIN. Sun Tzu menjelaskan metode dan disiplin dengan penjelasan sebagai berikut: Dengan metode dan disiplin dapat dipahami, pembagian tentara sesuai dengan divisi-divisi yang pantas, kenaikan pangkat bagi para perwira (yang berjasa), pemeliharaan jalur dimana suplai bisa dikirim, dan kontrol terhadap perbekalan militer. Berdasarkan penjelasan dari Sun Tzu, kita bisa mengartikan kalau metode dan disiplin berarti kemampuan untuk memenej organisasi dan membuatnya teratur dan tersistem.

Melalu kelima hal ini, kemudian Sun Tzu menyimpulkan kalau dia bisa meramalkan pihak yang mana yang akan menang dan pihak mana yang akan kalah dengan mempertimbangkan 7 faktor. Ketujuh faktor tersebut adalah:

1.   Manakah antara 2 penguasa yang diilhami oleh hukum moral?
2.   Manakah diantara 2 jenderal yang paling terampil?
3.   Dengan siapa, keuntungan atas faktor langit dan bumi lebih memihak?
4.   Di pihak yang mana disiplin lebih diterapkan dengan tepat?
5.   Tentara mana yang lebih kuat?
6.   Di pihak manakah para perwira dan bawahan lebih terampil dan terlatih?
7.   Di tentara mana, terdapat kekonsistenan baik itu dalam hadiah dan hukuman?
Sun Tzu juga mengingatkan kepada kita betapa pentingnya bersikap fleksibel dan tidak kaku dalam melakukan perencanaan. Hal ini dikarenakan kondisi medan pertempuran tidak selalu sesuai dengan harapan, dan seringkali informasi yang masuk justru malah sering salah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar