Kamis, 17 Maret 2016

11 MINDSET MUTLAK SAAT MELAKUKAN DEDUKSI



Sumber gambar: www.shapingfutures-event.co.uk
Setelah saya membaca berbagai buku, artikel, dan setelah melalui berbagai macam perenungan, saya menyimpulkan kalau terdapat berbagai macam ilmu pengetahuan yang mesti kita kuasai untuk bisa seperti tokoh-tokoh detektif yang kita idolakan. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai poin-poin penting apa saja yang mesti kita lakukan sebelum melakukan observasi, deduksi dan membaca orang lain. Dengan prinsip-prinsip yang saya tulis dan rumuskan dari berbagai sumber ini, Insya Allah akan menjadikan mindset kita menjadi lebih jelas dan terarah. Berikut adalah poin-poin penting tersebut:


MELAKUKAN KONTAK
Lakukanlah komunikasi secara face to face. Hindari sebisa mungkin komunikasi dengan menggunakan telepon, sms, apalagi kalau hanya lewat PM di facebook. Bersosialisasilah dengan orang-orang yang ada di sekeliling kita. Bersikaplah terbuka jika ingin bisa membaca orang lain.

SEMUANYA ADA DI DEPAN KITA
Apa yang kita cari semuanya ada di depan kita. Kita hanya perlu perlu memilih untuk melihatnya, atau tidak. Mendengarnya ataupun tidak. Karena itu, kita mesti fokus pada apa yang kita cari dan bersikap selektif. Lalu apa yang kita cari saat melakukan observasi? Berikut adalah hal-hal tersebut:

  • Hal yang tidak biasa walaupun terlihat normal 
  • Karakteristik yang menonjol 
  • Tingkat kekonsistenan suatu karakteristik 
  • Karakter yang muncul secara sengaja atau tidak disengaja 
  • Garis cincin  (karakteristik menonjol pada orang menikah di barat)
  • Penyimpangan pola perilaku subjek

Kesemua hal di atas mesti kita cari dan amati secara sungguh-sungguh.

MELAMBAT, JANGAN TERBURU-BURU
Ketika melakukan observasi lakukan dengan perlahan dan secara seksama, tidak perlu terburu-buru. Di dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, disebutkan bahwa tergesa-gesa itu termasuk perbuatan setan. Dalam konteks melakukan observasi, deduksi dan membaca orang lain, hal tersebut sangatlah tepat. Kenapa? Karena ketika kita langsung menarik kesimpulan padahal data belum lengkap, hal tersebut akan menimbulkan masalah. Karena itulah, di dalam novelnya, ketika Watson bertanya kepada Sherlock Holmes apakah dia sudah menyimpulkan sesuatu (di awal kasus The Adventure of Chopper Beeches), Sherlock mengatakan sambil agak setengah jengkel, “Data, data, data. I cannot make a brick without a clay” (Trans: Data, data, data. Aku tidak bisa membuat batu bata tanpa tanah liat).

BERHENTI, LIHAT, ENDUS, RABA DAN DENGAR
Ketika melakukan observasi, jangan hanya gunakan indera penglihatan. Gunakan indera lainnya. Saat pertama kali masuk ruangan enduslah, barangkali terdapat bau yang aneh. Rabalah, barangkali ruangan tersebut belum dibersihkan sehingga berdebu. Dengarlah, barangkali ada suara yang tidak biasa di ruangan tersebut. 

JANGAN BERPIKIR ALA JALAN PINTAS
Seringkali ketika kita pertama kali bertemu seseorang dengan pakaian necis dan rapi, gaya bahasa yang ramah dan sopan kita langsung menyimpulkan kalau orang tersebut “aman”. Mindset seperti ini perlu kita hindari. Pada kitab “6 Ajaran Rahasia”, Jiang Ziya mengatakan bahwa orang-orang yang berbakat biasanya memang tidak kelihatan menonjol. Karena itu, kita tidak boleh terjebak ke dalam bias, kesan atau pandangan umum terhadap suatu objek terutama manusia di saat pertama kali melihat orang tersebut. Kritislah!
Skema berpikir kritis



BUAT KEPUTUSAN DI SAAT TENANG
Berhenti membuat kesimpulan dan keputusan ketika penilaian kita terkeruhkan oleh perasaan kita. Jauhilah membuat keputusan di saat kita terlalu senang, pada saat bersedih, atau ketika merasa marah.

USAHAKAN OBJEKTIF, KALAU TIDAK BISA OBJEKTIF LAKUKAN SECARA MENYELURUH
Ketika melakukan penilaian berdasarkan pengamatan dan deduksi, berusahalah bersikap objektif. Kosongkan pikiran kita dari segala bias dan kesan. Walaupun begitu, hal ini mungkin akan sangat sulit apabila dikaitkan dengan perasaan sang pengamat itu sendiri. Seringkali apabila objek yang kita amati adalah seseorang yang kita sayangi, keluarga kita, atau orang yang kita benci, maka kita berhenti menjadi objektif. Ketika hal tersebut terjadi, lakukan pengamatan secara menyeluruh. Hal  ini akan mencegah kita dari perbuatan subjektif ketika menilai sesuatu. 

MILIKI RASA PENASARAN (CURIOUSITY)
Curiositymerupakan landasan dari ilmu pengetahuan. Tanpa rasa penasaran ini, kita mungkin akan masih terbutakan oleh takhayul hingga sekarang. Pertanyaan-pertanyaan yang kita ajukan pada diri kita seperti “Kenapa bisa begini?” atau “Bagaimana mungkin ini terjadi?” mesti kita biasakan. Jangan hilangkan rasa ini.

ALAMI BERBAGAI HAL BARU
Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Bagi seorang observer, pengalaman adalah referensi yang bisa kita jadikan acuan ketika kita melakukan deduksi. Karena itu, melakukan berbagai macam hal baru seperti bekerja di lingkungan yang berbeda-beda, melakukan jalan-jalan ke berbagai tempat, krusial bagi yang ingin menguasai seni deduksi.

JADILAH PENDENGAR YANG BAIK
Percakapan, pembicaraan, kalimat dan kata diekspresikan melalui suara. Melalui pengamatan terhadap suara, kita bisa mengambil info-info penting seperti layaknya ketika kita melihat menggunakan mata. 

ACTION!!
Mulailah lakukan latihan untuk melakukan observasi dan deduksi, sehingga prinsip-prinsip di atas bisa kita praktekkan. Tapi, saya tidak tahu bagaimana cara melatihnya!? Tenang saja, pada artikel selanjutnya saya akan mengemukakan berbagai latihan observasi dan deduksi yang saya ambil dari banyak ahli dan sumber. So, STAY TUNE!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar