Selasa, 14 April 2015

RIGOR MORTIS a.k.a KAKU MAYAT



KAKU MAYAT

Ketika kematian terjadi (lih. TANATOLOGI), otot tubuh manusia berubah menjadi lemas. Setelahnya, mayat tersebut berubah menjadi kaku secara perlahan-lahan, hal ini disebut dengan sebutan rigor mortis. 

Orang meninggal, terjadilah perubahan dari ATP -> ADP.

Selama dalam tubuh ada glycogen, masih dapat terjadi resintesa ADP -> ATP, sehingga otot-otot masih dalam keadaan lemas.

Bila persediaan glycogen habis, maka resintesa ADP -> ATP tidak ada,
Akibatnya semua ATP dirubah menjadi ADP, maka terjadilah kaku.


Perubahan-perubahan otot pada orang meninggal:

Primary Flacidity
Dalam fase ini, otot masih bisa dirangsang secara mekanik dan elektrik, terjadi dalam stadium somatich death, terjadi selama 2-3 jam

Rigor Mortis
Dalam fase ini, otot tidak bisa dikontraksi meskipun dirancang secara mekanik ataupun elektrik. Terjadi dalam stadium cellular death 

Secondary Flacidity (fase lemas) 

Fase rigor mortis terbagi ke dalam 3 bagian:

Kaku Mayat Belum Lengkap, mula-mula kaku mayat terlihat pada Mm. Orbicularis Occuli, kemudian otot-otot rahang bawah, otot-otot leher, ekstrimitas atas, thoraks, abdomen, dan ekstrimitas bawah. Fase ini berlangsung 3 jam.

Kaku mayat lengkap, kaku mayat ini dipertahankan hingga 12 jam.

Kaku Mayat Mulai Menghilang, Urutan-urutan hilangnya kaku mayat sama dengan urutannya saat timbul, kecuali otot rahang bawah yang paling akhir menjadi lemas. Fase ini berlangsung 6 jam. 

Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya rigor mortis:

Suhu sekitarnya

Keadaan otot saat meninggal

Umur dan gizi

Manfaat medis dari rigor mortis:
  • Tanda pasti kematian
  • Memperkirakan waktu terjadinya kematian 
  • Memperkirakan posisi tubuh mayat di saat dia meninggal 
  • Memungkinkan untuk memperkirakan penyebab terjadinya kematian, misalnya kekakuan yang cukup cepat mengindikasikan kematian akibat tetanus dan keracunan strychnine 
  • Rigor mortis bisa jadi bisa salah diartikan dengan beberapa jenis kekakuan seperti peristiwa di bawah:


Cavaderic Spasm: Kondisi ini terjadi pada saat kematian terjadi, dimana beberapa jenis otot berada dalam kontraksi hebat, sementara tubuh berada ditahap primary flacidity. Hal ini menjadikan kadang kasus otot yang berbeda tersebut disalahartikan sebagai rigor mortis, padahal bukan. Hal ini terus terjadi sampai rigor mortis selesai. Biasanya, cavaderic spasm ini terjadi dalam kasus-kasus kematian dengan tensi kegugupan yang ekstrim seperti:

Kasus Bunuh Diri, ketika senjata yang digunakan digenggam erat di tangan sang korban.

Kasus Tenggelam, korban memegang rumput atau lumut, atau lumpur.

Kasus Pembunuhan, korban memegang rambut, atau potongan kain yang merupakan milik pelaku pembunuhan.

Heat Stiffening: terjadi karena koagulasi protein otot akibat suhu yang tinggi. Otot yang menjadi kaku akibat heat stiffening ini tidak dapat mengalami rigor mortis. Sebaliknya, heat stiffening ini dapat berlaku pada otot yang sudah mengalami rigor mortis. Heat stiffening terdapat pada:

Korban Yang Mati Terbakar
Korban Yang Tersiram Cairan Panas
Jenazah Yang Dibakar 

Freezing Cold Stiffening: yaitu kaku sendi yang disebabkan cairan pada synovial membeku. Bila sendi tersebut digerakkan, akan terdengan suara crepitasi. Untuk membedakannya dengan rigor mortis, biasanya mayat dengan kasus seperti ini akan diletakkan di dalam ruangan dengan suhu yang lebih tinggi, sehingga otot-otot akan menjadi lemas akibat mencairnya kembali cairan synovial.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar