Jumat, 17 April 2015

PUTREFACTION alias PEMBUSUKAN




Untuk para penggemar detektif dan para pembaca setia detektifpediayang budiman, di artikel sebelumnya saya telah menulis berbagai artikel mengenai ilmu forensik (link bisa dilihat di bawah).






Di kesempatan kali ini, saya akan menuliskan mengenai salah satu tanda lain yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi waktu kematian. Peristiwa ini biasa disebut dengan sebutan decomposition, putrefaction, atau biasa kita kenal dengan sebutan pembusukan.


Proses pembusukan pada manusia yang terjadi setelah kematian, disebabkan oleh enzim proteolitik dan mikroorganisme. Lazimnya, pembusukan dimulai sekitar 18-24 jam setelah kematian terjadi. Adapun tanda-tanda pembusukan adalah sebagai berikut:
  • Warna kehijauan pada dinding perut daerah caecum, yang disebabkan reaksi hemoglobin dengan H2S menjadi Sulf-Met-Hemoglobin 
  • Wajah dan bibir membengkak 
  • Scrotum dan Vulva membengkak 
  • Abdomen membengkak dikarenakan adanya gas pembusukan di dalam usus, sehingga menyebabkan keluarnya feses dari anus, dan keluarnya isi lambung dari mulut dan lubang hidung 
  • Vena-vena superficialis pada kulit berwarna kehijauan, dikenal dengan sebutan MARBLING 
  • Pembentukan gas-gas pembusukan di bawah lapisan epidermis sehingga timbul BULLAE 
  • Akibat tekanan gas-gas pembusukan, maka gas dalam paru-paru akan terdesak sehingga menyebabkan darah keluar dari mulut dan hidung 
  • Bola mata menonjol keluar akibat pembusukan gas di dalam orbita 
  • Kuku dan rambut dapat terlepas, serta dinding perut bakal terpecah 
  • Alat-alat dalam tubuh juga mengalami proses pembusukan. Golongan yang cepat membusuk:
    1. Jaringan Otak 
    2. Lambung dan usus 
    3. Uterus yang hamil atau post partum
         Golongan yang lambat membusuk:
    1. Jantung 
    2. Paru-paru 
    3. Ginjal 
    4. Diafragma
          Golongan yang paling lambat membusuk:
 
    1. Prostat 
    2. Uterus yang tidak hamil 
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembusukan:
  • Penyebab kematian, tubuh yang meninggal akibat infeksi penyakit, membusuk lebih cepat darpada tubuh yang meninggal akibat keracunan arsenik akut, atau hemorrhage (kehabisan darah/cairan). Di dalam keracunan arsenik, pembusukan melambat dikarenakan terjadinya dehidrasi pada tubuh yang keracunan. Selain itu, arsenik mencegah berkembangnya pertumbuhan organisme pembusukan. Hal ini juga terjadi pada keracunan akibat logam berat. 
  • Sterilitas 
  • Suhu sekitar, temperatur optimum terjadinya pembusukan oleh bakteri adalah sekitar 370C. Hal ini menyebabkan pembusukan terjadi sangat cepat ketika musim panas dan melambat ketika musim dingin. Tubuh yang berada di dalam temperatur kurang dari 40C dan berada di temperatur lebih dari 500C, tidak akan mengalami pembusukan bahkan dalam waktu yang lama. 
  • Kelembaban, di dalam tubuh yang mengalami dehidrasi, proses pembusukan melambat. Sementara dalam kasus CHF (Congestive Heart Failure) dan anasarca yang terjadi secara umum, pembusukan terjadi lebih cepat dikarenakan kandungan air yang lebih banyak dalam tubuh.   
  • Medium -> Udara : Air : Tanah = 1 : 2 : 8. Kebanyakan organisme pembusukan bersifat aerob. Hal ini menyebabkan tubuh yang dikubur di bawah tanah padat membusuk lebih lama dari mayat yang dikubur di bawah tanah lunak, ataupun tanah berpasir. Tubuh yang berada di dalam air, jauh lebih lama membusuk dari pada tubuh yang terekspos ke udara. Selain itu, tubuh yang berada di dalam air tenang jauh lebih cepat dari pada tubuh yang berada di dalam air mengalir. 
  • Umur, bayi yang sedang menyusui dan orang tua mengalami pembusukan yang sangat lambat. 
  • Cara penguburan, tubuh yang dikubur di dalam tanah (layaknya orang kristen dan islam), lebih lama mengalami pembusukan. 
  • Darah,  darah merupakan medium penyebaran organisme bakteri pembusuk yang baik. Karena itulah, organ yang memiliki kandungan darah jauh lebih, akan mengalami pembusukan jauh lebih cepat. Sebagai contoh, hati membusuk jauh lebih cepat daripada uterus yang tidak mengalami kehamilan. Orang yang meninggal akibat kehabisan darah, juga membusuk lebih lambat. 
  • Tubuh yang terpotong. Tubuh yang memiliki banyak luka (sabetan, tusukan, potongan), membusuk lebih cepat dikarenakan banyaknya jalur masuk bagi bakteri ke dalam tubuh.
Tahapan-tahapan terjadinya pembusukan:
  • Setelah 24 jam di musim panas atau 36 jam di musim dingin, terjadi diskolorasi yang menyebabkan dinding perut berwarna hijau, hal ini disebabkan oleh hadirnya caecum. 
  • Terjadinya fenomena marbling, terlihat jelas setelah 48 jam. 
  • Setelah kematian terjadi sekitar 1-3 hari, diskolorasi dinding perut hingga berwarna kehijaun berhenti, muka membengkak, ditambah dengan membesarnya volume perut dan scrotum. 
  • Satu minggu setelah kematian, muncul BULLAE di bawah permukaan kulit, lidah keluar dari mulut, beserta dengan munculnya busa dari mulut dan rongga hidung (disertai darah). 
  • Dua minggu setelah kematian, kulit akan terkelupas dan abdomen akan meletus akibat tekanan gas pembusukan. Isi perut menyusut hingga hanya seukuran donat. Telur larva pada tubuh mayat, akan menjadi larva. Tubuh akan berubah berwarna hitam, sedangkan rambut dan kuku akan rontok. 
  • Enam bulan setelah kematian, tidak ada yang tersisa pada tubuh mayat kecuali tulang yang melekat pada ligamen. 
  • Satu tahun setelah kematian, ligamen tersebut juga akan menghilang, dan hanya meninggalkan tulang belulang saja. 
  • Satu tahun setelah kematian, waktu kematian diperkirakan berdasarkan massa dari tulang belulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar