Senin, 02 Maret 2015

Forensik



Nah, teman-teman penggemar detektif, kali ini saya akan membahas mengenai forensik. Kita ga usah bolak-balik membahas tentang asal katanya, karena pastinya akan membingungkan. Jadi, saya akan langsung saja.

Forensik adalah salah satu bidang ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu proses pengadilan melalui penerapan ilmu atau sains (wikipedia). Ilmu forensik buanyaak sekali cabang-cabang ilmunya seperti misalnya: kimia forensik, fisika forensik, psikologi forensik, kedokteran forensik, toksikologi, thanatologi, komputer forensikdan cabang-cabang lainnya yang saya kurang tahu dan saya tidak tahu




Bagi sebuah pengungkapan sebuah kasus kriminal, forensik sangatlah penting. Hal ini disebabkan ilmu forensik menyediakan bukti fisik yang bisa digunakan untuk dijadikan acuan kalau  pelaku benar-benar bersalah. Seorang pelaku kejahatan, biasanya akan menyangkal tuduhan kejahatan yang diberikan kepadanya dengan menceritakan mengenai apa yang sebenarnya terjadi melalui versinya sendiri. Dengan adanya bukti fisik yang diperoleh dari hasil analisis forensik, kita bisa membuat pelaku mengakui perbuatannya atau, jika dia tidak mengakuinya, maka kita bisa menyudutkannya. Walaupun begitu, tetap saja kemampuan deduksi dan observasi tetap harus kita pakai, dikarenakan hasil forensik
bisa saja direkayasa dan dengan hanya acuan hasil forensik tersebut, bisa saja kita menangkap orang yang tidak bersalah. Bayangin aja kalau gara-gara kita, orang tidak bersalah dihukum mati (silahkan berimajinasi). 

Sejak zaman dulu, forensik telah ada bahkan di era Yunani Kuno. Sayangnya, di era zaman dulu, penyiksaan penggunaan kekuatan lebih diandalkan daripada ilmu yang satu ini. Penggunaan psikologi forensik misalnya pernah digunakan Imam Abu Hanifah (pendiri madzhab Hanafi) dalam suatu riwayat. Suatu hari, seorang warga kekhalifahan dirampok. Warga tersebut melihat beberapa wajah perampok tersebut, namun para perampok tersebut, menyumpahnya supaya dia tidak memberitahukan seorangpun.

Dikarenakan terikat sumpah, orang yang dirampok ini tidak memberitahukan kepada siapapun mengenai wajah sang perampok walaupun dia sendiri melaporkan peristiwa ini kepada pasukan keamanan. Melihat hal ini, para pasukan keamanan kemudian meminta bantuan Imam Abu Hanifah untuk mengungkap siapa pelaku perampokan tersebut. Untuk mengungkap hal ini, Imam Abu Hanifah kemudian mengumpulkan seluruh penduduk kota. Satu persatu orang dihadapkan kepada korban. Setiap kali orang yang dihadapkannya bukan pelaku perampokan, maka orang tersebut akan berkata “Tidak, bukan orang ini.” Namun, ketika orang yang dihadapkan kepadanya adalah pelaku perampokan, maka si pelapor akan diam dan tidak akan mengatakan apa-apa. Dengan cara ini, Imam Abu Hanifah mampu menangkap satu persatu pelaku perampokan tanpa menyebabkan terjadinya pertumpahan darah dan tanpa melanggar sumpah sang korban.

Di beberapa kebudayaan seperti di Cina dan India Kuno misalnya, terdapat metode menggunakan air liur untuk mengungkap pelaku kejahatan. Pada umumnya, orang dengan air ludah yang paling sedikit adalah pelaku suatu kriminal (para kriminal biasanya akan menelan banyak ludah dikarenakan berpikir atau gugup). Para tersangka, biasanya akan disuruh untuk menelan nasi kering, dan disuruh meludahkannya kembali. Dengan metode ini, kita akan mampu menentukan siapa pelaku. 

Di Timur Tengah era kuno, mereka menggunakan besi panas untuk menentukan pelaku, dengan prinsip yang sama seperti metode air liur di atas. Orang yang bersalah, lidahnya akan terbakar parah dikarenakan air liurnya tidak cukup jumlahnya sehingga tidak bisa melindungi lidahnya. 

Di era modern, sains forensik bisa kita kenali pada misalnya kekakuan tubuh pada korban untuk menentukan waktu kematian korban. Selain itu, lebam pada tubuh mayat juga bisa digunakan untuk menentukan waktu kematian korban. Pendeteksian darah dan DNA pada alat kepunyaan pelaku, akan menjadi bukti fisik yang penting untuk menyudutkan pelaku. Selain itu, perbedaan sudut, metabolisme korban, algoritme suatu komputer, juga bisa menjadi bukti suatu peristiwa kriminal.

Walaupun forensik bisa menghasilkan bukti penting, namun yang namanya bukti tetap bisa direkayasa. Karena itulah, kemampuan seperti observasi (silahkan baca: KEMAMPUAN OBSERVASI), deduksi (silahkan baca: KEMAMPUAN DEDUKSI), membaca bahasa tubuh (silahkan baca: BODY LANGUAGE), semuanya akan menjadi faktor penentu yang akan bisa menentukan seseorang bersalah atau tidak. Sehingga, kita tidak boleh mengacu terlalu jauh pada ilmu ini, walaupun kita tetap harus menguasainya. 

APABILA ANDA MEMILIKI PERTANYAAN, SILAHKAN KETIK PERTANYAAN ANDA DI KOLOM KOMENTAR. APABILA ARTIKEL INI BERMANFAAT, SILAHKAN ANDA BAGIKAN ARTIKEL INI KEPADA TEMAN-TEMAN ANDA :-)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar